SULUK PEMANCING KALI: Kaplok-ke Ndiasmu…!
SULUK PEMANCING KALI: Kaplok-ke Ndiasmu…!
Saparella_Dunn, minggu Kliwon 2015
“Wong kok koyo linshang, senengane mung mancing wae”, Gus Bar, salah seorang tetanggaku mengolok-olok aku saat aku mau berangkat mancing. “Mbok ya kolo-kolo nek minggu kliwon ki ngaji selapanan nang mesjid” dia menambahkan lagi.
Aku pun hanya mesam-mesem kecut mendengar ocehannya, karena saat itu penduduk kampungku memang sedang sibuk mempersiapkan pengajian selapanan tiap ahad kliwon. “ Wedhuus…. Ngomong ngono kok yo pas ono wong akeh, pas ono pak kiai pisan”, kamprett koclooockk.
Sebetulnya ndak ada masalah bagiku disamakan dengan linshang, hewan pemangsa ikan yang mblegedhus dan unyu-unyu itu. Namun aku prihatin dengan pola pikir sebagian tetanggaku yang sering memandang sesuatu dari sudut pandang yang sangat sempit. Di tambah lagi cara mereka mengajak dan melarang sesuatu, tidak memperhatikan ruang dan waktu yang tepat. “ Hadeeeh…”
“Wheeh… Lha kok melu misuh-misuh yo aku, berarti aku yo ngono podo karo dewekne”, wakakakak. Ternyata saya juga tidak jauh berbeda dengan mereka, masih berpikiran sempit dan gampang tersinggung bila tegur orang. “ Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak”, itulah manusia seperti saya yang masih kebanyakan ego. He he he….. jadi maluuu.
Saya pun berlalu sambil senyam-senyum sendiri kayak si Thoil, bocah pah-poh kurang sak kebulan yang suka ngomong sendiri. Trus gimana caranya agar gajah yang besar dan ada di pelupuk mata itu bisa tampak ya? “Kaplok-ke ndiasmu!!!”, wkwkwkwk….
Sebagai makhluk Tuhan yang sering memperhatikan hal-hal kecil kekurangan orang lain, terkadang memang harus di kaplok ndias-e kali yaa? Biar cepet nyadar kekurangan kita yang segedhe gajah bengkak. Muekekekek….. ha ha ha ha.
From : Saparela Dunn

Komentar
Posting Komentar